SEMBARANGAN! Saya kaget menerima kenyataan ini! Apakah yang terjadi? Silakan Cermati berita berikut, yang saya salin dari beberapa Situs Berita Nasional:
Dari TribunNews.com:
…………….
Presiden dikabarkan tersinggung berat atas ulah anggota DPR tersebut. Bahkan Partai Demokrat mengancam melaporkan inisitar penggalang koin untuk presiden ke Polisi dan Badan Kehormatan DPR. Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Sudi Silalahi, yang namanya manusia tentu punya perasaan termasuk Presiden. “Bagaimana perasaan kita itu kan termasuk. Ya saya kira kurang pas lah,” kata Sudi.
Juru Bicara Presiden Julian Aldrian Pasha, menegaskan pengumpulan koin untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melecehkan SBY sebagai kepala negara dan bisa dipidanakan.
…………….
Kemudian dari MetroTVNews.com:
…………….
Ketua Umum People Aspiration Center (Peace) Habib Ahmad Shahab mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki kepemimpinan seperti Nabi Muhammad.
Walaupun dimusuhi dan dikhianati oleh rekan-rekan koalisi dan orang-orang lainnya, dia tetap mau merangkulnya,” ujar Habib Ahmad Shahab dalam acara bedah buku berjudul “Presiden SBY Mengukir Prestasi di Tengah Tekanan Politik” di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta.
Walaupun dicerca dan dihina, SBY tidak menyerang balik.
…………….
Dan ini contoh Model Kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad serta Sahabatnya:
…………….
Dalam konteks ibadah mahdhoh (langsung diatur caranya oleh Allah dan Rasul) seperti sholat:
- Justru hubungan imam dan makmum sangat demokratis. Betapa tidak? Bila seorang imam salah bacaan, maka makmum tidak boleh diam atau membiarkan kesalahan itu sampai akhir rakaat. Makmum harus langsung membetulkan bacaan imam yang salah. Bila imam lupa hitungan rakaat, maka makmum laki-laki harus mengingatkannya dengan mengucapkan “subhanallah”. Sedangkan bagi makmum wanita dengan “menepuk tangannya” sebagai tanda mengingatkannya.
- Dengan mekanisme check and balance semacam ini maka jamaah sholat akan terpelihara dari kesalahan yang menyebabkan kerugian bagi jamaah itu sendiri. Imam tidak boleh marah ketika diingatkan makmumnya, kalau memang itu salah. Makmum pun tidak boleh merasa sombong karena sudah mengingatkan imamnya.
- Di sinilah keikhlasan masing-masing pihak dalam posisinya senantiasa harus dijaga agar solat jamaah tersebut diterima oleh Allah swt.
Pada Masa Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra juga diperlihatkan bagaimana mekanisme saling menasihati antara pemimpin dan yang dipimpin:
- Bahkan pada masa Umar baru saja dilantik menjadi Khalifah (lebih tinggi daripada jabatan presiden), ada seorang rakyat biasa (jauh lebih rendah kedudukannya dari pangkat Kolonel) maju ke depan sambil menghunus sebilah pedang seraya berkata: Wahai Umar, jika engkau menyimpang dari al-Qur’an dan Sunnah maka aku akan meluruskannya dengan ini (sambil mengangkat pedangnya)! Apa reaksi Umar? Umar bertakbir dan mengucapkan hamdalah (memuji Allah swt) karena telah diberikan rejeki seorang rakyat yang berani meluruskan Umar dengan pedang jika ia menyimpang dari syariat, sehingga Umar dan seluruh rakyatnya akan selamat.
Pada Masa Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz:
- mencontohkan ketika anaknya datang kepadanya, ia bertanya untuk urusan pribadi atau Negara. Ketika anaknya menjawab urusan pribadi, maka lentera yang tadi menyala dengan minyak yang dibiayai Negara langsung dimatikan.
- Begitu juga kalau dia datang terlambat ke masjid maka terpaksa harus berada di shaf belakang. Salah sendiri kenapa terlambat. Tidak mentang-mentang anak Khalifah lalu maunya duduk di shaf depan padahal datangnya belakangan. Lalu pulang duluan, yang lain memberikan jalan…
…………….
Lalu dari sudut pandang mana si Habib itu berani menyatakan bahwa Model Kepemimpinan SBY itu mirip dengan Nabi???
- Apakah anak presiden bebas menaiki pesawat sesukanya, sehingga penumpang lainnya dipaksa rela menerima keterlambatan penerbangan pesawat. Naudzubillahi mindzalik! Kepemimpinan macam apa itu?
- Apakah SBY mau terima jika dilempar FESES???
- Dengan Gerakan Koin aja, udah TERSINGGUNG!
Dari sudut pandang mana Bib?!






Recent Comments